Sebuah insiden tak terduga mengubah ketenangan malam bagi salah satu keluarga di Dukuh Gunden, Desa Tirtomarto, Kecamatan Cawas, Klaten. Pada Selasa malam, sebuah keberadaan misterius yang awalnya dikira hanyalah tikus, ternyata adalah seekor ular kobra Jawa berbisa yang berukuran cukup besar.
Ular kobra Jawa, yang dikenal dengan nama ilmiah Naja sputatrix, berhasil dievakuasi dari rumah warga setelah memicu kepanikan. Keberadaan reptil berbisa ini menyoroti pentingnya kewaspadaan di lingkungan tempat tinggal.
Kisah menegangkan ini bermula ketika Paiman, pemilik rumah yang terletak di area tersebut, mendengar suara desisan aneh yang berasal dari bawah lemari di dalam kediamannya. Suara tersebut terdengar cukup jelas memecah keheningan malam.
"Kronologisnya pemilik rumah, Paiman, mendengar suara mendesis di bawah lemari. Curiga awalnya dikira tikus," terang Mardiyono, salah seorang relawan senior dari Exalos Indonesia regional Klaten sekaligus anggota RCTD, saat menceritakan kembali kejadian tersebut kepada awak media.
Paiman yang merasa penasaran dan sedikit curiga, memutuskan untuk tidak mengabaikan suara tersebut. Ia kemudian berinisiatif melakukan pengecekan langsung ke lokasi asal desisan yang mengusik ketenangannya.
Dengan bantuan lampu senter, Paiman berusaha menyinari area di bawah lemari. Saat itulah, sebuah penampakan mengejutkan terungkap. Bukannya tikus seperti yang ia duga, melainkan seekor ular berwarna hitam pekat yang tampak jelas di balik kegelapan.
"Begitu dilihat ternyata ular warna hitam. Spontan saksi menjerit dan minta tolong pak RT," lanjut Mardiyono, menggambarkan momen syok yang dialami Paiman. Dalam kepanikannya, Paiman segera menghubungi ketua RT setempat, Mas Bowo, yang kebetulan juga merupakan salah satu relawan dari RCTD.
Setelah menerima laporan mendesak dari Paiman, Mas Bowo segera bergerak untuk melihat langsung situasi di lokasi. Menyadari bahwa ular yang ditemukan memiliki ukuran yang cukup besar dan berpotensi berbahaya, ia tidak menunda untuk menghubungi Mardiyono, yang juga akrab disapa Mbah Jangkung, sekitar pukul 20.00 WIB.
Mendapatkan laporan mengenai penemuan ular berbisa, Mardiyono langsung meluncur ke lokasi kejadian tanpa membuang waktu. Kesiapan dan kecepatan respons tim relawan sangat krusial dalam penanganan kasus seperti ini.
Setibanya di rumah Paiman, tantangan pertama langsung dihadapi. Ular yang sebelumnya terlihat oleh Paiman, kini seolah-olah "menghilangkan jejaknya" dan tidak dapat ditemukan secara langsung. Kondisi ini memaksa tim untuk melakukan tindakan lebih lanjut.
"Ular ternyata menghilangkan jejak sehingga harus memindahkan lemari," jelas Mardiyono. Dengan bantuan Paiman dan warga sekitar, lemari yang menjadi tempat persembunyian awal ular itu pun dipindahkan secara hati-hati.
Setelah lemari digeser, sebuah lubang kecil di bawah lemari akhirnya terungkap. Lubang inilah yang kemudian diduga kuat menjadi sarang atau jalur pelarian bagi ular kobra tersebut, menambah kompleksitas proses evakuasi.
Proses evakuasi pun dimulai dengan penuh kehati-hatian. Untuk dapat menjangkau ular yang masuk ke dalam lubang, para relawan harus membongkar celah tembok lantai di sekitar area persembunyiannya. Pekerjaan ini memerlukan kesabaran dan presisi tinggi.
"Ya sedikit lama karena ular sempat masuk ke lubang bawah lemari dan kita harus bongkar," ucap Mardiyono, menjelaskan mengapa proses evakuasi memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Namun, berkat ketekunan tim, ular kobra Jawa berukuran jumbo dengan panjang mencapai 1,2 meter itu akhirnya berhasil diamankan.
"Alhamdulillah ular terevakuasi kobra Jawa atau naja sputatrix jumbo panjang 1,2 meter," imbuhnya dengan nada lega setelah ular berhasil ditangkap dan diamankan. Momen keberhasilan ini menjadi puncak dari kerja keras tim relawan.
Seluruh proses evakuasi yang menegangkan itu diperkirakan memakan waktu kurang lebih 20 menit. Setelah penangkapan, Mardiyono tidak lupa menyampaikan pesan penting kepada seluruh masyarakat di Klaten.
"Kita imbau warga untuk tetap waspada dengan ular berbisa," pesannya. Ia juga mengingatkan agar warga senantiasa menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah dan menghindari adanya tumpukan barang yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ideal bagi ular.
Sementara itu, Bowo juga menyatakan bahwa evakuasi dilakukan secara kolaboratif bersama tim RCTD. Setelah ular berhasil tertangkap, area lubang yang diduga sarang itu tidak lantas dibiarkan begitu saja.
"Setelah terevakuasi kita lanjut bongkar sepanjang lubang takutnya ada lagi dan ternyata sudah tidak ada ular lainnya," ungkap Bowo. Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi ular lain yang bersembunyi dan untuk memberikan rasa aman sepenuhnya kepada pemilik rumah dan warga sekitar.
