Warga di wilayah Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kembali menyuarakan keluhan mendalam terkait banjir rob yang kian meninggi. Situasi ini, menurut mereka, semakin memburuk pasca berdirinya konstruksi tol tanggul laut Semarang-Demak di area tempat tinggal mereka. Pemerintah Kabupaten Demak pun turut mengakui adanya pergeseran pola rob sejak proyek tol tersebut mulai rampung sepenuhnya.
Pantauan yang dilakukan pada Rabu (3/6/2026) menunjukkan bahwa genangan rob melanda berbagai titik di sisi utara tol, khususnya di Desa Gemulak dan Desa Timbulsloko. Fenomena air pasang yang meluap ini disebut warga sebagai dampak langsung dari tersambungnya ruas tol yang juga berfungsi sebagai tanggul.
Salah satu warga yang merasakan dampak ini adalah Munawar, seorang lansia berusia 70 tahun dari Dusun Daleman, RT 4 RW 7, Desa Gemulak. Munawar mengisahkan bahwa banjir rob sebenarnya sudah mulai mengintai wilayahnya sejak tahun 2016 silam. Namun, intensitas dan ketinggian air rob mengalami peningkatan drastis dalam beberapa bulan terakhir.
“Semakin parah saat Lebaran itu, Idul Fitri,” tutur Munawar, menggambarkan puncak keparahan rob yang terjadi belakangan ini. Kondisi tersebut membuatnya semakin prihatin akan masa depan tempat tinggalnya.
Berbagai upaya adaptasi telah dilakukan Munawar untuk bertahan hidup di tengah kepungan rob. Ia bahkan sempat meninggikan lantai rumahnya hingga sekitar setengah meter atau 75 sentimeter agar air tidak masuk ke dalam. Selain itu, ia juga membuat jalan setapak kecil dari urukan tanah di depan rumah sebagai akses keluar masuk.
Namun, semua usaha itu kini terasa sia-sia. Munawar menjelaskan bahwa setelah tol laut selesai tersambung, genangan air justru semakin tinggi. Air rob kini dengan mudah menutupi jalan urukannya dan bahkan kembali merangsek masuk ke dalam rumahnya.
“Jalannya (tertutup rob sampai) masuk rumah. Geser (robnya) karena itu dibendung jalan tol. Lama-lama (rob) semakin tinggi,” keluh Munawar. Ia meyakini bahwa pembendungan yang dilakukan oleh konstruksi jalan tol menjadi pemicu utama pergeseran dan peningkatan ketinggian rob.
Atas kondisi yang memprihatinkan ini, Munawar sangat berharap pemerintah dapat segera menemukan solusi konkret. Ia mengimpikan agar wilayah pantai utara dapat segera dibendung secara menyeluruh, sehingga banjir rob yang terus mengancam tempat tinggalnya bisa segera surut dan tak lagi mengganggu kehidupan warga.
Permasalahan rob tak kalah kompleksnya terjadi di Dusun Timbulsloko, Desa Timbulsloko. Selain menerima imbas dari tersambungnya tol laut, pemuda setempat bernama Roni (23) mengungkapkan bahwa wilayahnya juga menghadapi persoalan penurunan muka tanah yang signifikan.
“Kalau menurut saya itu ada penurunan (muka tanah) sama ada dari dampak (tersambungnya) tol itu,” jelas Roni. Ia menambahkan bahwa Dusun Timbulsloko yang berada di luar area jalan tol kini menjadi sasaran luapan air. “Akhirnya air yang mengalir itu melubernya ke sini ke warga-warga yang di luar tol,” imbuhnya.
Roni menjelaskan, ia menyadari adanya penurunan muka tanah di wilayahnya setelah membandingkan data pasang surut air laut dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan realitas yang terjadi. Ia mencontohkan, “Dulu waktu di tahun 2025 (sebelum tol tersambung), kalau di BMKG itu 1,1 (meter) kan ketinggian 110 cm, untuk akses kami enggak tenggelam.”
Namun, kondisi berubah drastis setelah pembangunan jalan tol rampung. “Selama jalan tol itu sudah mulai ketutup, sudah nyambung, di ukuran ketinggian 100 sentimeter saja jalan sudah tenggelam, apalagi 1,1 (meter),” ungkap Roni, memperkuat argumennya tentang penurunan muka tanah.
Lebih lanjut, Roni memaparkan bahwa rob sudah mulai menggenangi kampungnya sejak tahun 2014. Perlahan, kondisinya terus memburuk, mengubah lahan sawah menjadi tambak. Pada tahun 2017, motor masih bisa melintas saat air surut, namun kondisi paling parah terjadi sekitar tahun 2019-2020. “Seperti desa mati, enggak ada akses,” kenang Roni tentang masa-masa sulit tersebut.
Meskipun demikian, warga Timbulsloko menunjukkan ketangguhan mereka dalam beradaptasi. Mereka mulai membangun jalan dan rumah panggung menggunakan bambu serta papan kayu untuk bertahan hidup. “Sekarang warga juga lebih pintar beradaptasi sendiri karena kalau di (dalam) satu tahun itu panggungnya mulai tenggelam, mungkin warga sudah persiapan untuk meninggikan lagi,” tutur Roni, menunjukkan semangat juang warganya.
Senada dengan Munawar, Roni juga sangat berharap permasalahan banjir rob di wilayahnya dapat segera diselesaikan secara tuntas. Menurutnya, pembangunan tanggul laut yang menyeluruh di sepanjang pantai utara merupakan solusi yang sangat krusial. “Kalau menurut saya sendiri kan (solusinya) tanggul laut ya, dari orang yang hidup di pesisir itu memang sangat penting,” tegas Roni.
Menanggapi keluhan warga, Sekretaris Daerah Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, menjelaskan bahwa sebagian besar proyek tol laut memang sudah rampung. Kondisi ini secara alami menyebabkan pergeseran aliran air ke arah timur, mencari daerah dengan elevasi yang lebih rendah.
“Pascadengan adanya tanggul laut, tol dan sekarang ini juga tanggul laut tol ini sudah sebagian besar juga sudah jadi, air itu akan lari ke arah yang tanah yang lebih rendah, bergeser ke arah timur,” terang Akhmad. Ia juga menyatakan bahwa Pemkab Demak telah menyampaikan persoalan ini kepada pihak terkait, termasuk badan otoritas pesisir.
Akhmad menekankan bahwa penanganan rob ini seharusnya dilakukan secara komprehensif di seluruh pesisir Demak, bukan hanya di satu klaster saja. “Ini sudah kita sampaikan juga ke badan otoritas pesisir dan yang ke yang lainnya, karena ini dampak rob ini pasti akan ke timur terus. Maka dari itu penanganan tidak bisa klaster ini selesai, ya kalau bisa ya semuanya, sampai Moro (Morodemak) dan Wedung,” ujarnya, menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih luas.
Sebagai solusi terdekat, Akhmad menyebut adanya program pembangunan Hybrid Sea Wall dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pihak Pemkab Demak kini masih menantikan pelaksanaan program tersebut yang diharapkan dapat sedikit meredakan dampak rob.
Meski demikian, Akhmad mengakui bahwa program Hybrid Sea Wall ini belum tentu dapat menuntaskan permasalahan rob di Demak secara keseluruhan. Oleh karena itu, pihaknya akan terus mencari titik-titik strategis yang paling tepat agar kenaikan air rob dapat diminimalisir. “Walaupun ini belum bisa menuntaskan semuanya, hanya sebagian. Makanya harus cari tempat-tempat yang notabenenya memang betul-betul bisa mengurangi air rob naik. Itu kalau menurut saya,” pungkas Akhmad.
