Pemasangan Baliho Raja Baru Keraton Solo Tuai Tanggapan Berbeda: Fokus Adat versus Harmoni Publik

Juni 5, 2026 | 
[lwptoc]

Kawasan Solo kembali menjadi sorotan publik menyusul pemasangan sebuah baliho besar yang menampilkan potret Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi. Baliho tersebut, yang dipasang oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, secara eksplisit menuliskan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) PB XIV, seolah mengukuhkan statusnya sebagai raja baru Keraton Surakarta.

Baliho tersebut terlihat mencolok di area Gladag, Solo, pada hari Senin, 1 Juni. Gambar PB XIV Mangkubumi yang terpampang di baliho mengenakan pakaian kebesaran raja, menegaskan klaim yang ingin disampaikan oleh pemasang baliho kepada masyarakat luas mengenai suksesi kepemimpinan di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo secara terbuka menyatakan diri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan baliho tersebut. Langkah ini sejalan dengan tujuan LDA untuk menyampaikan informasi krusial mengenai struktur kepemimpinan di dalam keraton kepada khalayak ramai.

Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, membenarkan bahwa pemasangan baliho itu memang dimaksudkan sebagai bentuk pengumuman kepada masyarakat Solo mengenai adanya raja baru di Keraton. Menurutnya, ini adalah cara untuk memastikan masyarakat mengetahui perkembangan penting dalam urusan adat dan tradisi.

Eddy Wirabhumi menambahkan bahwa makna dari pemasangan baliho ini bersifat luas dan multi-interpretasi. Ia menyebutkan bahwa pesan yang terkandung bisa ditujukan bagi masyarakat, kalangan internal keraton sendiri, maupun pihak pemerintah, menunjukkan kompleksitas dinamika di balik layar Keraton Surakarta.

Menariknya, Eddy juga mengaitkan momen pemasangan baliho dengan Hari Lahir Pancasila. Ia berpendapat bahwa tindakan ini memiliki makna simbolis yang mendalam, merefleksikan komitmen untuk meneguhkan adat dan tradisi budaya, sekaligus selaras dengan semangat kebangsaan dan pendirian negara.

Lebih lanjut, KPH Eddy Wirabhumi menyatakan kesiapannya untuk menghadapi segala konsekuensi yang mungkin timbul dari pemasangan baliho tersebut. Ia menegaskan akan bertanggung jawab penuh, baik dari sisi hukum maupun adat, atas dasar kapasitas dan kewenangannya dalam menjaga tradisi keraton.

Namun, pemasangan baliho ini tidak luput dari tanggapan pihak lain di internal keraton. KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, selaku Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, melalui Kanjeng Pakoenegoro, menyampaikan pandangan yang berbeda.

Tedjowulan, menurut Kanjeng Pakoenegoro, sempat memberikan arahan agar baliho-baliho yang terpasang di sekitar area Keraton Solo sebaiknya diisi dengan informasi mengenai kegiatan atau agenda budaya yang sedang berjalan, alih-alih menampilkan potret individu.

Ia mencontohkan, baliho dapat dimanfaatkan untuk mengumumkan kegiatan penting seperti Grebeg, proses revitalisasi keraton, atau bahkan visualisasi kirab kebo bule yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi Keraton Solo. Ide ini bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih substantif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Filosofi di balik arahan Tedjowulan adalah keinginan agar pesan yang tersampaikan kepada masyarakat melalui media luar ruang tersebut dapat memberikan ketenangan dan menyejukkan suasana. Ia berharap informasi yang disajikan bisa meredakan potensi ketegangan di tengah masyarakat.

Menurut Kanjeng Pakoenegoro, visualisasi yang mengangkat kekayaan tradisi dan budaya keraton akan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Hal ini karena informasi yang jelas mengenai agenda keraton dapat memperkaya pengetahuan dan pemahaman publik tentang warisan budaya mereka.

Ia juga menekankan pentingnya kejelasan dalam penyampaian informasi, seperti jadwal atau garis waktu kegiatan, tanpa harus menonjolkan satu pihak tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan kerukunan dan menghindari perpecahan di antara berbagai elemen masyarakat dan internal keraton.

Saat ditanya apakah pandangan dan saran Tedjowulan telah disampaikan kepada pihak PB XIV Mangkubumi, Kanjeng Pakoenegoro menegaskan bahwa komunikasi dan hubungan antar-pimpinan di internal keraton senantiasa terjalin dengan baik dan berkelanjutan. Berbagai masukan telah disampaikan dalam dialog-dialog tersebut.

Kanjeng Pakoenegoro menambahkan bahwa Gusti Tedjowulan memiliki keinginan kuat untuk merangkul semua pihak, menunjukkan semangat rekonsiliasi dan persatuan dalam menghadapi dinamika yang ada. Hal ini menjadi indikasi adanya upaya untuk menjaga keharmonisan di tengah perbedaan pandangan.

Dengan demikian, pemasangan baliho yang mengklaim raja baru ini memicu perdebatan mengenai metode dan pesan komunikasi publik yang paling tepat untuk Keraton Solo. Satu sisi mengedepankan pengumuman langsung terkait suksesi adat, sementara sisi lain lebih menekankan pada penyampaian informasi kegiatan budaya demi kerukunan dan ketenangan masyarakat luas.

Bantu Vote 5 Bintang Yuks !!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram