Merayakan Waisak: Ribuan Umat Buddha Gelar Kirab Agung dari Mendut ke Borobudur

Mei 31, 2026 | 
[lwptoc]

Ribuan umat Buddha dengan khidmat dan antusias mengikuti kirab agung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Minggu (31/5/2026). Sepanjang rute prosesi, ribuan warga lokal dan wisatawan memadati sisi jalan, menyaksikan jalannya kirab yang sakral dan penuh warna ini.

Sekitar pukul 10.45 WIB, rombongan kirab mulai bergerak dari kawasan kolam renang Mendut. Barisan paling depan diawali oleh iringan drumband yang bersemangat, disusul oleh pembawa Bendera Merah Putih yang berkibar gagah. Kemudian, mobil-mobil yang membawa para biksu melintas perlahan, di mana para biksu terlihat memberkati umat dan warga yang menyaksikannya dengan percikan air suci.

Dalam kirab ini, Api Dharma dan Air Suci—yang telah disemayamkan di Candi Mendut—turut dibawa. Keduanya akan menjadi bagian dari persembahan utama di altar Candi Borobudur. Setelah mobil para biksu, berjejer rombongan mobil hias dengan dekorasi menarik. Barisan berikutnya adalah para biksu yang berjalan kaki, dan di bagian paling belakang, ribuan umat Buddha berjalan beriringan. Mayoritas umat mengenakan pakaian serba putih bersih dan membawa bunga sedap malam, menambah nuansa spiritual dan keindahan prosesi.

Antusiasme warga terlihat jelas di sepanjang rute kirab, yang meliputi Jalan Mayor Kusen hingga Jalan Balaputradewa, sebelum mencapai kompleks Candi Borobudur. Mereka memadati kedua sisi jalan, baik kanan maupun kiri, untuk mengabadikan momen ini. Arif Dwi Nugroho (34), warga Kota Semarang, yang kebetulan berlibur di rumah kerabatnya di Muntilan, mengaku senang bisa menyaksikan kirab ini. "Kami kebetulan sedang liburan di rumah mbah di Muntilan. Terus dikasih tahu kalau ada kirab, sekalian menonton. Ini sekalian momong, anak-anak senang," ujarnya di Simpang Karet Mendut.

Ungkapan senada disampaikan oleh Wiwik Winarti (37), warga Kota Magelang. Ia yang semula hendak menuju Palbapang namun terjebak macet, memutuskan untuk turut serta menyaksikan kirab. "Tadi kebetulan lewat mau ke Palbapang, tapi macet. Sekalian nonton," kata Wiwik, yang juga mengaku pernah menyaksikan kirab Waisak serupa sebelumnya. "Ini momong, ya suka (ada kirab)," tambahnya.

Biksu Dwiwiya Savhira dari Majelis Mahayana Tanah Suci Indonesia menjelaskan makna mendalam di balik prosesi ini. Menurutnya, Api abadi dan Air suci yang dibawa ke Borobudur adalah bentuk persembahan. "Kirab melambangkan sebagai proses perjalanan hidup. Jadi dalam perjalanan hidup, kita harus penuh mengalami liku-liku kehidupan. Karena itulah persembahan-persembahan yang ada di altar sebagai simbol bekal kita," jelasnya.

Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, menambahkan bahwa iring-iringan kirab diawali oleh drumband, diikuti oleh pembawa Bendera Merah Putih, bendera Buddhis, bendera Walubi, serta bendera dari masing-masing majelis. Selanjutnya, barisan diisi oleh mobil hias dan ribuan umat Buddha.

Setibanya di Candi Borobudur, umat Buddha memasuki area kompleks melalui pintu 7. Api Dharma dan Air Suci kemudian dibawa menuju altar untuk perayaan Tri Suci Waisak. Puncak perayaan, yakni detik-detik Waisak, tahun ini akan jatuh pada pukul 15.44.44 WIB.

Bantu Vote 5 Bintang Yuks !!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram