Mantan Istri Personel Smash, Fabiola Elizabeth, Terjerat Penipuan Kripto Internasional: Berperan sebagai 'Pacar' Virtual Rayu Korban

Juni 4, 2026 | 
[lwptoc]

Model Fabiola Elizabeth, yang juga dikenal sebagai mantan istri personel grup musik Reza Smash, kini harus berurusan dengan hukum. Ia ditangkap di Solo Baru, Sukoharjo, atas keterlibatannya dalam kasus penipuan (scamming) yang melibatkan jaringan internasional.

Polda Jawa Tengah (Jateng) mengonfirmasi penangkapan ini dan mengungkap peran kunci Fabiola dalam operasi kejahatan tersebut. Ia didapuk sebagai 'talent' yang berpura-pura menjadi kekasih virtual para calon korban.

Dalam skema penipuan ini, Fabiola akan melakukan panggilan video (video call atau VC) dengan calon korban, menciptakan ilusi hubungan romantis untuk menjerat mereka. Tujuannya adalah membangun kepercayaan dan merayu korban agar bersedia berinvestasi dalam skema bodong yang ditawarkan.

Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes Artanto, menjelaskan peran Fabiola secara rinci. "Yang bersangkutan sebagai talent berperan sebagai pacar pada saat korban ingin video call terhadap siapa lawan bicaranya," ujarnya pada Selasa (2/6/2026).

Saat ditanya apakah panggilan video yang dilakukan Fabiola mengarah pada konten pornografi, Kombes Artanto memilih untuk tidak menjawab secara spesifik. Ia menegaskan bahwa fokus utama penyidik saat ini adalah pada peran Fabiola dalam merayu korban.

"Untuk saat ini penyidik berfokus tentang peran talent yang merayu korban agar terpikat dan ikut investasi fiktif tersebut," tambah Artanto, menegaskan prioritas penyelidikan pada modus operandi penipuan.

Direktur Reserse Siber (Dirresiber) Polda Jateng, Kombes Himawan Susanto Saragih, menambahkan bahwa Fabiola direkrut secara khusus. Ia bertugas meyakinkan para calon korban agar mau menanamkan modalnya pada investasi kripto palsu yang dijalankan oleh jaringan scammer internasional.

"Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban," kata Himawan dalam sebuah konferensi pers di Mapolda Jateng, Kota Semarang, pada Senin (1/6).

Himawan lebih lanjut menjabarkan bahwa Fabiola akan mengambil alih peran 'marketing' jika ada korban yang masih ragu untuk berinvestasi. Ini adalah bagian dari strategi komplotan untuk memastikan setiap calon korban akhirnya terpikat.

Tim marketing awalnya bertugas mencari dan mendekati korban. Namun, "Apabila di dalam pendalaman mereka si korban butuh keyakinan, maka yang tampil adalah bukan marketing, tapi model," jelas Himawan. Peran model seperti Fabiola dianggap lebih efektif untuk meningkatkan kepercayaan dan memotivasi korban agar segera berinvestasi.

Kombes Artanto juga mengonfirmasi bahwa Fabiola termasuk di antara para pelaku yang ditangkap dalam penggerebekan di Solo Baru. Keberadaannya di lokasi menunjukkan keterlibatan langsungnya dalam operasional jaringan penipuan tersebut.

Menariknya, Fabiola, yang berperan sebagai model dalam penipuan ini, diketahui memiliki ruang khusus untuk merias diri di lokasi penggerebekan. Hal ini menunjukkan tingkat profesionalisme dan persiapan yang ia lakukan untuk menjalankan perannya.

"Betul, yang bersangkutan punya ruang sendiri termasuk ruang rias sendiri. Ada barang bukti meja rias," ungkap Artanto, menguatkan bukti keterlibatan Fabiola dan dedikasinya pada peran palsu tersebut.

Para korban dari komplotan penipu ini, menurut Kombes Himawan, mayoritas berasal dari Amerika Serikat (AS). Fakta ini menegaskan skala internasional dari jaringan penipuan yang berhasil diungkap Polda Jateng.

Untuk mendalami kasus lintas negara ini, Polda Jateng telah menjalin kerja sama dengan Biro Investigasi Federal AS (FBI). Kolaborasi ini penting untuk mengumpulkan informasi dari para korban di luar negeri.

"Dalam kasus ini pelaku menargetkan warga negara Amerika Serikat sehingga di dalam proses penyidikan kami bekerja sama dengan FBI dan tentunya dalam koordinasi baik Divhubinter maupun Bareskrim," terang Himawan, menjelaskan upaya koordinasi lintas lembaga.

Melalui kerja sama dengan FBI, Polda Jateng berharap dapat memperoleh data dan kesaksian dari para korban di AS. Sejauh ini, tercatat ada 133 korban dalam kasus tersebut, dengan sebagian besar merupakan warga negara Amerika Serikat.

"Karena ini lebih banyak korban dari Amerika, tentunya kami akan bekerja sama dan berkolaborasi dengan FBI dalam mendapatkan informasi dari korban-korban yang ada di Amerika khususnya," Himawan kembali menegaskan komitmen kolaborasi internasional.

Polda Jateng juga tidak berhenti di situ. Mereka akan bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri seluruh transaksi perbankan dan kripto yang digunakan oleh para pelaku. Ini adalah langkah krusial untuk melacak aliran dana hasil kejahatan.

"Selanjutnya melakukan kerja sama dengan PPATK guna penelusuran transaksi perbankan dan crypto yang digunakan dalam operasional tindak pidana penipuan online tersebut. Dan selanjutnya melakukan kerja sama dengan pihak Imigrasi dalam pengawasan orang asing," imbuh Himawan, menambahkan rencana kerja sama dengan pihak Imigrasi.

Komplotan penipu daring internasional yang beroperasi di Solo Baru, Sukoharjo, ini diperkirakan telah meraup keuntungan fantastis, mencapai Rp 41 miliar. Angka ini menunjukkan betapa masifnya operasi penipuan yang mereka jalankan.

Polisi juga telah mengungkap alasan di balik penggunaan mata uang kripto sebagai modus penipuan. Menurut Kombes Himawan, komplotan tersebut telah menyiapkan skema transfer mata uang digital dengan sangat matang.

"Mengapa menggunakan crypto? Ya, karena tentunya mereka sudah mempersiapkan website yang dimodif secara ringkas. Mereka sudah membuat mendesain sedemikian rupa sehingga korban itu tertarik tentunya dengan keuntungan yang lebih besar," kata Himawan pada Senin (1/6). Ini menjelaskan bagaimana kripto dijadikan daya pikat dengan janji keuntungan berlipat ganda.

Himawan menambahkan bahwa penggunaan kripto dipilih karena dianggap sebagai mata uang yang paling mudah untuk dijadikan modus investasi dalam skema penipuan mereka. "Dan mata uang yang paling gampang adalah crypto," pungkasnya, menggarisbawahi kemudahan manipulasi dan pelacakan yang lebih rumit pada aset digital tersebut.

Bantu Vote 5 Bintang Yuks !!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram