Indahnya Toleransi Waisak: Warga Thekelan Bermaafan Lintas Iman bak Lebaran

Mei 31, 2026 | 
[lwptoc]

Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, menunjukkan potret toleransi yang luar biasa hari ini. Perayaan Hari Raya Waisak di dusun ini tidak hanya milik umat Buddha, melainkan dirayakan bersama seluruh elemen masyarakat lintas agama. Suasana akrab dan saling bermaafan, layaknya momen Idul Fitri, begitu kental terasa.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dusun Thekelan, Supriyo. Menurutnya, peringatan Waisak yang dipusatkan di Vihara Buddha Bhumika tersebut menjadi ajang kebersamaan. Umat non-Buddha, mulai dari Muslim, Nasrani (Kristen dan Katolik), hingga pemuda dan linmas, aktif membantu persiapan hingga menjaga kelancaran acara. "Kami seluruh warga masyarakat Dusun Thekelan tanpa terkecuali dari umat Muslim, umat Nasrani, Kristen, Katolik, dan umat Buddha sendiri merayakan Waisak di jalan sepanjang Vihara Buddha Bhumika," ujar Supriyo kepada detikJateng.

Supriyo menambahkan, "Jadi kami yang non-Buddha, anak-anak kami, dari linmas, itu ikut membantu kelancaran dan keamanan di tempat sekitar." Puncak kebersamaan terlihat saat seluruh warga Thekelan berbaris mengular di gerbang vihara. Mereka berkumpul bukan hanya untuk menyaksikan, melainkan untuk mengucapkan selamat Waisak dan saling bermaafan kepada umat Buddha yang baru selesai bersembahyang.

"Nah turun dari sembahyangan untuk umat Buddha itu sudah disambut oleh umat Muslim, sama umat Kristen dan Katolik, kita mengucapkan selamat Waisak. Saling bersalaman, saling maaf-memaafkan," cerita Supriyo, menggambarkan pemandangan yang mengharukan.

Tradisi toleransi ini juga berlanjut dengan gelaran open house oleh umat Buddha. Mereka mengundang tetangga non-Buddha untuk bertamu, berbagi hidangan, dan kembali mengulang momen saling memaafkan. "Jadi di samping ada ucapan selamat dan maaf-maafkan di depan tempat ibadah, yang merayakan (Waisak) itu biasanya ngundang yang Muslim sama yang Kristen open house ke rumah dan makan bareng. Ketika pulang ya masih mengucapkan maaf-maafan dan ucapan selamat," jelas Supriyo.

Supriyo menegaskan bahwa tradisi luhur ini telah berlangsung lama, tumbuh dari kesadaran murni warga Thekelan tanpa ada paksaan. Semangat toleransi bahkan tidak hanya muncul saat Waisak, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebuah video yang diperoleh detikJateng dari Supriyo merekam momen mengharukan tersebut. Tampak antrean warga yang saling berpelukan, bermaaf-maafan, bahkan menitikkan air mata haru. Beberapa warga terlihat menyeka air mata usai memeluk sesama. Salah satu adegan menyentuh menunjukkan seorang pria berpeci bersimpuh di hadapan seorang nenek berkebaya putih, kemudian memeluknya erat, melambangkan eratnya persaudaraan lintas iman di Dusun Thekelan.

Bantu Vote 5 Bintang Yuks !!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram