Dalam kurun waktu sepekan, dua hiu tutul atau hiu paus terdampar di pesisir selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Tim peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dalam investigasinya menemukan sampah plastik di saluran pencernaan salah satu hewan tersebut, mengindikasikan ancaman serius terhadap biota laut dan ekosistem maritim.
Keterdamparan pertama terjadi pada Minggu (17/5/2026), seekor hiu paus berukuran sekitar 4 meter ditemukan lemas dan akhirnya mati di Pantai Pagubugan, Kecamatan Binangun. Seminggu kemudian, tepatnya pada Sabtu (23/5/2026) pagi, seekor hiu paus jantan dewasa sepanjang 8,36 meter juga ditemukan terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu. Kedua lokasi berjarak sekitar 6 kilometer.
Menanggapi fenomena beruntun ini, tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed, bersama Jejaring Penanganan Biota Laut Terdampar Kabupaten Cilacap, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Yayasan Sealife Indonesia, segera diterjunkan untuk melakukan investigasi mendalam. Hasil nekropsi atau bedah bangkai hiu paus yang ditemukan pada 23 Mei menunjukkan lambungnya penuh berisi ikan teri nasi yang belum tercerna, sesuai dengan pola makan utama hewan tersebut.
Mukti Trenggono, Dosen Ilmu Kelautan FPIK Unsoed, menjelaskan bahwa analisis oseanografi mengindikasikan adanya faktor ekologis yang menarik hiu paus mendekati perairan dangkal Cilacap. Data citra satelit MODIS Aqua pada Mei 2026 menunjukkan konsentrasi klorofil-a di perairan Cilacap hingga Kebumen berkisar 1-3 mg/m3 dengan suhu permukaan laut sekitar 29-30 derajat Celsius. "Kondisi oseanografi tersebut mengindikasikan peningkatan produktivitas perairan dan potensi agregasi plankton serta nekton kecil. Hal inilah yang menjadi faktor ekologis pendorong bagi hiu paus untuk mendekati perairan dangkal Cilacap guna berburu sumber makanan utama mereka, seperti udang rebon maupun ikan teri," kata Mukti.
Namun, di samping faktor alami tersebut, tim peneliti juga menemukan indikasi ancaman serius akibat aktivitas manusia. "Selain luka sayatan yang diduga berasal dari baling-baling kapal, peneliti menemukan sampah plastik di dalam saluran pencernaan hiu paus tersebut," terang Mukti.
Senada, Dr. Nuning Vita Hidayati, peneliti FPIK Unsoed lainnya, menambahkan bahwa pencemaran lingkungan laut diduga menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi satwa hingga berujung pada terdampar. "Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu. Gangguan tersebut berpotensi meningkatkan risiko disorientasi, stres lingkungan, bahkan yang terparah dapat menyebabkan keracunan akut yang berkontribusi langsung pada kejadian keterdamparan," ujar Nuning.
Penyebab pasti kematian kedua hiu paus ini masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Tim Unsoed telah mengamankan sampel perairan dan sampel biologis dari lokasi kejadian untuk diuji di laboratorium, meliputi analisis kualitas air, analisis genetik, hingga kajian oseanografi. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan perlindungan kawasan ruaya (habitat migrasi) hiu paus di pesisir selatan Jawa.
