Slamet Suradio, Masinis Tragedi Bintaro 1987, Meninggal Dunia

Juni 4, 2026 | 
[lwptoc]

Indonesia kehilangan salah satu saksi kunci sejarah kelam perkeretaapian, Slamet Suradio. Masinis KA 225 dalam tragedi Bintaro 1987 yang memilukan itu berpulang pada usia 87 tahun, kemarin. Kepergiannya membawa serta kisah hidup penuh liku yang berubah drastis akibat insiden tersebut.

Jenazah Mbah Slamet, sapaan akrabnya, meninggal di Bekasi dan kemudian dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh putri bungsunya, Safitri (26).

Safitri menjelaskan bahwa ayahnya menghembuskan napas terakhir di Cengkareng, Bekasi, pada Rabu (3/6) dini hari. "Ya sakit karena sudah sepuh," kata Safitri saat ditemui detikJateng, seraya menambahkan bahwa Mbah Slamet meninggal sekitar pukul 01.00 WIB di kediaman kakaknya. Jenazah kemudian dibawa pulang ke Dusun Krajan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo untuk dikebumikan.

Sebelum tragedi yang mengubah segalanya, kehidupan Mbah Slamet sebagai masinis cukup mapan dan menjanjikan. Ia telah mengabdi selama puluhan tahun di jalur kereta api, menjalani profesi yang dihormati dengan dedikasi tinggi.

Namun, nasib berkata lain. Pada tanggal 19 Oktober 1987, kereta api yang dikemudikannya terlibat dalam salah satu kecelakaan kereta api terburuk dalam sejarah Indonesia: Tragedi Bintaro.

Insiden mengerikan itu bukan hanya merenggut banyak korban jiwa, tetapi juga menjungkirbalikkan seluruh aspek kehidupan Mbah Slamet, mengubahnya secara fundamental dan tak terpulihkan.

Dalam penyelidikan pasca-tragedi, Slamet Suradio dinyatakan bersalah. Konsekuensinya sangat berat; ia dipecat dari pekerjaannya dan harus menjalani hukuman lima tahun penjara, mendekam di balik jeruji besi atas kesalahan yang dituduhkan kepadanya.

Ketika bebas dari penjara, cobaan hidupnya belum usai. Ia harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan istrinya. Untuk menyambung hidup, mantan masinis ini terpaksa beralih profesi menjadi penjual rokok, sebuah pekerjaan yang jauh dari kehidupan sebelumnya.

Tragedi Bintaro, yang terjadi tepat 39 tahun lalu, memang telah mengukir garis takdir yang berbeda bagi pria kelahiran 18 Agustus 1939 ini. Sebagai masinis KA 225, ia menjadi salah satu aktor utama dalam peristiwa yang menewaskan 156 orang.

Dikutip dari berbagai sumber, kecelakaan tersebut melibatkan dua kereta api, KA 225 dan KA 220, yang melaju dari arah berlawanan. Insiden terjadi pada Senin, 19 Oktober 1987, di antara Stasiun Pondok Ranji dan pemakaman Tanah Kusir, dekat SMUN 86 Bintaro, tepatnya di Km 18.75.

KA 225, yang dikemudikan Slamet Suradio, berangkat dari Stasiun Sudimara. Sementara itu, KA 220 Patas datang dari arah Stasiun Kebayoran. KA 225 saat itu berjalan dengan kecepatan sekitar 25 km/jam, dan KA 220 melaju sekitar 30 km/jam.

Kedua kereta api tersebut membawa banyak sekali penumpang, bahkan ada yang nekat berdiri di bagian luar gerbong. Ketika tabrakan tak terhindarkan, kedua lokomotif hancur, terguling, dan ringsek dalam posisi bertumbukan 'saling memakan'.

Akibat dahsyatnya tabrakan, tercatat 156 korban jiwa melayang dan ratusan lainnya mengalami luka-luka serius. Catatan medis kala itu melaporkan 70 orang meninggal di tempat kejadian, sementara sisanya tewas dalam perjalanan atau setelah tiba di rumah sakit.

Hasil penyelidikan mendalam menunjukkan bahwa akar masalah tragedi ini adalah buruknya komunikasi dan koordinasi antar stasiun. Kesalahan fatal bermula dari Stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 menuju Stasiun Sudimara tanpa memastikan ketersediaan jalur di Sudimara yang sebenarnya sudah penuh.

Setibanya di Stasiun Sudimara, Kepala Stasiun memerintahkan juru langsir untuk mengarahkan KA 225 masuk ke jalur 3. Namun, sang masinis tidak dapat melihat semboyan dengan jelas. Ia kemudian bertanya kepada penumpang, "berangkat?" yang dijawab "berangkat!" oleh penumpang, sehingga masinis pun melaju.

Juru langsir yang kaget sempat berusaha mengejar kereta hingga berhasil naik ke gerbong belakang. Beberapa petugas lain bahkan ikut mengejar dengan sepeda motor, namun upaya mereka untuk menghentikan laju kereta sia-sia. Semboyan gentar darurat sempat dinyalakan untuk penjaga perlintasan Pondok Betung, namun KA 225 terus melaju.

Pada saat yang bersamaan, KA 220 dari Kebayoran juga telah diberangkatkan. Dengan kecepatan masing-masing 25 km/jam dan 30 km/jam, kedua kereta melaju menuju titik tabrakan yang tak terhindarkan.

Selain Slamet Suradio yang dihukum 5 tahun penjara dan kehilangan pekerjaan serta pensiunnya, kondektur KA 225, Adung Syafei, juga divonis 2,5 tahun penjara. Sementara itu, Umrihadi, PPKA Kebayoran Lama, harus mendekam selama 10 bulan.

Tragedi Bintaro sontak menjadi sorotan media massa nasional hingga internasional, mendorong diskusi serius tentang keselamatan perkeretaapian. Bahkan, lagu-lagu diciptakan untuk mengenang para korban yang berjatuhan.

Sebagai respons atas insiden ini, PT Kereta Api Indonesia (dahulu PJKA) melakukan sejumlah perbaikan signifikan. Pembangunan jalur ganda antara Stasiun Tanah Abang hingga Serpong baru terlaksana pada tahun 2007 untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan. Selain itu, sistem komunikasi radio juga diinstal dan diperluas untuk kelancaran koordinasi.

Bantu Vote 5 Bintang Yuks !!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram