Kabar yang menyebar dengan cepat di berbagai platform media sosial belakangan ini telah sukses mencuri perhatian publik, khususnya di wilayah Demak. Kisah luar biasa ini berpusat pada seorang pria lansia yang disebut-sebut bangkit dari kematiannya tepat saat jenazahnya hendak disucikan.
Peristiwa yang tak lazim ini terjadi di Desa Klampok Lor, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, dan langsung memicu kehebohan di kalangan masyarakat setempat. Keajaiban sesaat itu membuat jenazah pria tersebut bertahan hidup selama satu malam penuh, sebelum akhirnya berpulang untuk selamanya keesokan harinya.
Cerita tentang "hidup kembali"nya jenazah ini pertama kali mencuat dan menjadi viral setelah diunggah oleh sebuah akun Instagram lokal, yaitu @liputanseputar_kebonagung. Unggahan tersebut sontak menjadi perbincangan hangat dan dibagikan secara luas di dunia maya.
Dalam takarir atau caption yang menyertai unggahan tersebut, dijelaskan secara gamblang momen mengejutkan itu. "Lah pas AREP di suceni ndelalah wonge mau mripate melek. Tangane obah, Wong sing dikabarkan Sedo. UJUG-UJUG URIP MANEH," demikian bunyi kutipan dalam bahasa Jawa yang disaksikan oleh tim detikJateng pada hari Rabu (3/6).
Kutipan tersebut menggambarkan suasana kepanikan dan kebingungan warga yang menyaksikan. Mereka terkejut melihat mata sang pria terbuka dan tangannya bergerak-gerak, sebuah fenomena yang sangat tidak terduga dari seseorang yang sebelumnya telah dinyatakan meninggal dunia.
Menanggapi viralnya kabar tersebut, pihak kepolisian setempat akhirnya angkat bicara. Kapolsek Kebonagung, Iptu Said Nu'man Murod, secara resmi membenarkan kebenaran peristiwa geger yang terjadi di wilayah hukumnya. Konfirmasi ini penting untuk memastikan informasi yang beredar di masyarakat adalah fakta.
Iptu Nu'man Murod menjelaskan identitas pria lansia yang menjadi pusat perhatian ini adalah Bapak Suhardi, yang berusia 65 tahun. Menurut keterangan pihak kepolisian, Bapak Suhardi memang telah lama menderita sakit menahun sebelum peristiwa ini terjadi, mengindikasikan kondisi kesehatannya yang memang sudah menurun drastis.
Kronologi kejadian dimulai pada Selasa (2/6) sore. Pada saat itu, Bapak Suhardi dinyatakan meninggal dunia dan kabar duka tersebut segera disiarkan ke seluruh penjuru desa melalui pengeras suara masjid setempat, sebagaimana lazimnya tradisi di masyarakat pedesaan.
Setelah pengumuman kematian tersebut, warga dan keluarga mulai mempersiapkan segala keperluan untuk prosesi pemakaman. Mereka bergotong royong untuk mengurus jenazah sesuai dengan adat dan syariat yang berlaku, termasuk persiapan memandikan atau menyucikan jenazah.
Namun, momen yang tak disangka-sangka terjadi setelah waktu Maghrib. Saat jenazah Bapak Suhardi hendak dimandikan, secara mengejutkan ia kembali bernapas. Detak jantungnya kembali terdeteksi, menciptakan kebingungan dan kegemparan di antara mereka yang hadir.
Untuk memastikan kondisi kesehatan Bapak Suhardi, seorang bidan desa segera dipanggil ke lokasi. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, bidan tersebut mengkonfirmasi bahwa memang benar masih ada detak jantung pada tubuh Bapak Suhardi, menegaskan bahwa ia belum benar-benar meninggal dunia.
Pasca kejadian yang dijuluki sebagai "mati suri" ini, Bapak Suhardi tidak lantas dibawa ke rumah sakit. Beliau tetap berada di rumahnya, dengan keluarga dan warga yang menyaksikan keajaiban sesaat tersebut, meski dalam kondisi yang masih lemah dan memerlukan perhatian khusus.
Sayangnya, keajaiban itu tidak berlangsung lama. Setelah melewati satu malam dalam keadaan antara hidup dan mati, Bapak Suhardi akhirnya menghembuskan napas terakhirnya untuk kedua kalinya pada Rabu (3/6) pagi, tepat saat waktu subuh tiba.
Setelah dipastikan meninggal dunia secara definitif untuk kedua kalinya, jenazah Bapak Suhardi kemudian segera dimakamkan. Prosesi pemakaman dilaksanakan dengan lancar, mengakhiri perjalanan hidup beliau yang penuh dengan peristiwa tak terduga dan meninggalkan cerita yang akan selalu dikenang oleh warga Desa Klampok Lor.
Iptu Nu'man Murod juga memberikan informasi mengenai kehidupan pribadi Bapak Suhardi. Beliau menjelaskan bahwa selama ini Bapak Suhardi tinggal berdua bersama istrinya yang juga sudah lansia. Sementara itu, anak-anak mereka diketahui berada di luar kota, sehingga tidak bisa selalu mendampingi orang tua mereka di saat-saat penting seperti ini.
