Sejumlah warga yang bermukim di sekitar lokasi proyek perbaikan jalan Turunan Gombel, Kota Semarang, melayangkan keluhan serius terkait kondisi rumah mereka. Keretakan pada dinding rumah kian melebar, bahkan beberapa pintu dilaporkan bergeser sehingga tidak bisa ditutup normal, diduga kuat akibat dampak dari pengerjaan proyek tersebut. Di lokasi Turunan Gombel, Kecamatan Banyumanik, terlihat beberapa ekskavator beroperasi sejak pagi hingga malam hari, didampingi pembangunan pusat perbelanjaan di sisi barat jalan.
Faris (35), salah seorang warga terdampak, mengungkapkan bahwa keretakan yang sebelumnya sudah ada di rumahnya kini semakin parah sejak proyek perbaikan jalan berjalan. Ia menduga kuat bahwa getaran dari alat berat dan aktivitas konstruksi menjadi pemicu utama kerusakan. "Sebelumnya ada, tapi belum seberapa. Setelah ada perbaikan jalan ini tambah melebar," ujar Faris kepada detikJateng pada Sabtu (30/5/2026). Ia menambahkan, rumahnya kini seperti bergeser, menyebabkan pintu sulit ditutup hingga ia terpaksa memodifikasinya. "Rumahnya kayak ketarik ke depan sama ke samping. Pintu sampai nggak bisa ditutup, jadi kayak kegeser gitu," jelasnya.
Faris menuturkan bahwa petugas dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) sebelumnya telah mendata dan memotret kondisi rumah warga yang mengalami keretakan. Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai bentuk pertanggungjawaban atau kompensasi yang akan diberikan kepada warga. "Memang pernah difoto-foto. Katanya nanti ada kompensasi atau tanggung jawab, tapi bentuknya seperti apa belum dijelaskan," katanya. Ia sangat berharap adanya tindak lanjut yang jelas dari pihak terkait, terutama jika kerusakan rumah warga terbukti bertambah parah akibat proyek. "Harapannya ya ada pertanggungjawaban yang jelas. Karena yang retak bukan cuma rumah saya, banyak rumah di sekitar sini juga kena," tegas Faris.
Senada dengan Faris, Ketua RT 5 Teguh Pramono membenarkan adanya keluhan terkait keretakan rumah dari sejumlah warganya yang tinggal berdekatan dengan area proyek. "Kalau masalah retak rumah memang ada, terutama yang dekat lokasi pekerjaan," kata Teguh. Selain keretakan rumah, Teguh juga menyebut warga terdampak oleh debu dan intensitas lalu lalang kendaraan proyek yang keluar masuk kawasan permukiman. "Kalau resah ya semua resah. Gara-gara debu, truk keluar masuk. Tapi ya kita berharap hasilnya nanti bagus untuk kampung sini," ujarnya.
Meskipun demikian, Teguh mengakui bahwa pembangunan tersebut sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi jalan dan saluran air yang selama ini kerap menimbulkan masalah banjir saat musim hujan. "Kalau dulu hujan sering banjir karena salurannya bermasalah. Semoga setelah diperbaiki kondisinya lebih baik," harap Teguh, menunjukkan pemahaman akan pentingnya proyek tersebut bagi lingkungan.
Hingga berita ini diturunkan, tim detikJateng telah berupaya menghubungi BBPJN Jateng-DIY untuk meminta keterangan resmi, namun belum ada pernyataan yang dikeluarkan terkait tuntutan kompensasi dari warga.
