Menguak Asal-usul Nama Desa Tutup Blora: Dari Pohon Trutup hingga Jejak Pasukan Diponegoro

Mei 31, 2026 | 
[lwptoc]

Desa Tutup di Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, menyimpan kisah menarik di balik namanya yang unik. Berjarak hanya 2,5 kilometer dari pusat Kota Blora, desa ini membawahi tiga dukuh: Tutup, Ngetrep, dan Sukorame, serta dikelilingi oleh lima desa lainnya. Sejarawan Blora, Dalhar Muhammadun atau akrab disapa Madun, menjelaskan bahwa penamaan desa ini memiliki dua versi yang sama-sama memukau.

Versi pertama menyebutkan bahwa nama Desa Tutup berasal dari 'pohon trutup'. Pohon ini memiliki karakteristik mirip kayu along atau Melanolepis Multiglandulosa, dengan daun berbentuk hati dan tepi sedikit bergerigi. Dikenal juga sebagai pohon tutup beling atau balik angin di beberapa daerah, pohon trutup tergolong pohon keras dengan buah bulat kecil. Madun menuturkan bahwa dulunya pohon trutup mudah ditemukan di desa tersebut, sering ditanam di belakang rumah atau sebagai pembatas tanah. Meskipun kini keberadaannya langka, pohon ini memiliki manfaat penting. Buahnya menjadi makanan favorit burung terucukan, sementara daunnya berkhasiat mengobati penyakit kulit seperti panu atau kadas, terutama 'penyakit trutup' yang khusus menyerang wajah.

Kisah kedua, yang tidak kalah kuat, mengaitkan nama Desa Tutup dengan peristiwa heroik pelarian tentara Diponegoro. Sekitar tahun 1830, Raden Ngabehi Honggowijoyo, seorang pasukan Diponegoro yang dikenal sebagai Mbah Datuk, memilih wilayah ini sebagai tempat persembunyiannya dari kejaran Belanda. Madun menjelaskan, saat Mbah Datuk tiba di daerah ini, ia beristirahat dan bersemedi di bawah rindangnya pohon trutup yang banyak tumbuh di sana. Makna 'Tutup' kemudian diinterpretasikan sebagai tindakan 'menutup diri' atau memproteksi diri dari pengawasan pasukan musuh, menyembunyikan identitas serta aktivitas demi keamanan.

Kehadiran Mbah Datuk tidak hanya meninggalkan jejak nama, tetapi juga pengaruh besar dalam sejarah desa. Salah satu putranya pernah menjabat sebagai Wedono Jati, dan secara turun-temurun, tiga generasi keturunan Mbah Datuk memimpin Desa Tutup sebagai lurah. Mereka adalah R. Honggodiwiryo (Lurah Tutup I), R. Citrodiwiryo (Lurah Tutup II), dan R. Sumarjo Citrodijoyo (Lurah Tutup III), yang akrab disapa Mbah Lurah Citro dan menjabat selama 51 tahun hingga tahun 1950.

Bantu Vote 5 Bintang Yuks !!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram