Menjelang peringatan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada tahun 2026, kumpulan teks khutbah berbahasa Jawa lengkap dengan doa pembuka dan penutup telah disediakan bagi umat Islam. Penyusunan teks khutbah ini bertujuan untuk membantu para khatib menyampaikan materi dakwah secara lebih efektif dan mudah dipahami oleh jemaah saat pelaksanaan sholat Idul Adha di masjid maupun di lapangan terbuka.
Berdasarkan rujukan dari buku *Panduan Muslim Sehari-hari* karya M. Hamdan Rasyid dkk, sholat Idul Adha merupakan ibadah sunnah muakkadah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, tepat setelah jemaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah. Setelah ibadah sholat selesai, khatib disunnahkan untuk berdiri guna memberikan khutbah kepada para jemaah. Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, sebanyak tujuh teks khutbah berbahasa Jawa telah dihimpun dari berbagai rujukan otoritatif, seperti laman Kementerian Agama Yogyakarta, NU Online, NU Bantul, serta buku *Khutbah Ringkas 7 Menit Bahasa Jawa* karya Ustadz Hazim Fikri.
Dalam naskah khutbah yang dipersiapkan, struktur penyampaian diawali dengan doa pembuka berbahasa Arab yang berisi pujian kepada Allah SWT, syahadat, selawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta wasiat takwa yang merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an. Setelah bagian pembuka, penyampaian materi inti dilakukan menggunakan bahasa Jawa dengan fokus utama pada pemaknaan ibadah kurban.
Materi khutbah tersebut menekankan bahwa ibadah kurban merupakan bentuk ketakwaan, wujud rasa syukur, serta sarana untuk membersihkan diri dari sifat bakhil dan egois. Sesuai esensi Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 37, Allah SWT tidak melihat daging atau darah dari hewan yang dikurbankan, melainkan tingkat keikhlasan dan ketakwaan umatnya. Khutbah ini juga mengulas kembali kisah kepatuhan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, dalam menjalankan perintah Allah SWT, serta mengutip hadis riwayat Tirmidzi mengenai keutamaan menyembelih kurban pada hari Nahr. Melalui khutbah tersebut, masyarakat yang memiliki kelapangan rezeki diimbau untuk berkurban dengan ikhlas, sementara yang belum mampu diharapkan tetap mendukung kegiatan kurban dengan saling membantu sesama tetangga.
Dilansir dari berbagai sumber.
