Sejarah Keraton Surakarta (Solo) beserta dengan silsilah Keraton Surakarta Lengkap

Kalian pasti tidak asing dengan Kota Surakarta atau yang sering di sebut juga dengan Kota Solo ini. Atau kalian malah sudah pernah berkunjung ke Kota Solo ini? Kemana saja kalian berkunjung? Ke Balaikambang kah, ke Benteng Vastenburg kah, atau ke Keraton Surakarta?

Tidak lengkap rasanya jika kalian sudah berkunjung ke sebuah tempat wisata tanpa mengetahui sejarah nya. Nah, di sini saya akan mengulas tentang sejarah Keraton Surakarta beserta Silsilah Lengkapnya.

Keraton Surakarta merupakan salah satu tempat yang sangat bersejarah yang ada di Kota Solo. Keraton ini yang juga sering di sebut dengan Keraton Surakarta Hadiningrat. Hal itu karena dari dulu sampai sekarang Keraton Surakarta merupakan tempat tinggal bagi sunan dan keluarga istana yang masih melestarikan adat istiadat dan budaya kerajaan.

Sejarah Keraton Surakarta

Keraton Surakarta ini merupakan bagian dari sejarah perjanjian giyanti. Perjanjian tersebut adalah perjanjian antara Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Magkubumi yang bersengketa di Kasultanan Mataram dan membentuk perjanjian dengan Pemerintah Hindu Belanda atau VOC bahwa Kasultanan Mataram di bagi menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Baca Juga Sejarah Kota Solo

Namun sejak perjanjian tersebut, Keraton Surakarta tidak dianggap sebagai pengganti dari Kasultanan Mataram. Walaupun rajanya masih memiliki darah keturunan Kerajaan Mataram. Keraton Surakartapun menjadi sebuah kerajaan sendiri. Setiap Raja dari Kasunanan Surakarta pun mendapat gelar Sunan. Seperti halnya Raja yang ada di Kasultanan Yogyakarta yang mendapat gelar Sultan.

Perjanjian Salatiga dalam Sejarah Keraton Surakarta

Pada 13 Februari 1755, VOC mengalami kebangkrutan. Lalu pada saat itu VOC membujuk Pangeran Mangkubumi untuk berdamai dengan dan bersatu dengan VOC untuk melawan pemberontak Raden Mas Said. Padahal sebelum itu Pengeran Mangkubumi dan Raden Mas Said bersekutu.

 Pada 17 Maret 1757, terjadilah Perjanjian Salatiga yang menyebabkan Kasunanan Surakarta semakin kecil. Hal itu terjadi karena Raden Mas Said menang dan diakui sebagai pangeran kekuasaannya yang berstatus sebagai Kadipaten dan disebut dengan julukan Praja Mangkunegara.

Lalu Kasunanan Surakarta lebih mengecil lagi dikarenakan Raden Mas Said yang bergelar Adipati Mangkunegara. Menyerahkan daerah mencanegara nya ke Belanda sebagai ganti rugi biaya peperangan setelah peperangan Diponegoro.

Silsilah Keraton Surakarta

  1. Pakubuwana IV

Pakubuwana IV merupakan sosok raja yang sangat membenci penjajahan dan seorang raja yang memiliki cita cita tinggi serta keberanian penuh. Berbeda dengan Pakubuwana III yang patuh dengan VOC.

Pada 1790, terjadilah pengepungan Keraton Surakarta yang dilakukan oleh para pejabat Negara, VOC, Hamengkubuwana I dan Magkubuwana I. Pengepungan itu disebut Peristiwa Pakepung. Alasan pengepungan ini karena Pakubuwana IV mengusir para pejabat Negara yang tidak sejalan dan sepaham dengannya.

Setelah pengepungan tersebut, Pakubuwana IV mengaku kalah dan ia setuju untuk dibuang oleh VOC. Dan setelah itu terdapat perundingan yang memutuskan bahwa Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta dan Praja Mangkunegara memiliki kedudukan yang sama sehingga tidak boleh saling menyerang satu dengan yang lainnya.

  1. Pakubuwana V

Pakubuwana V merupakan pengganti dari Pakubuwana IV. Pakubuwana V mendapat julukan Sunan Ngabehi karena kekayaan nya, tidak hanya kekayaan harta yang dia miliki, namun kekayaan kesaktian juga.

  1. Pakubuwana VI

Pakubuwana VI ini merupakan salah satu pendukung dari Pangeran Diponegoro. Dan memberontak pada VOC serta pada Kasultanan Yogyakarta.

  1. Pakubuwana VII

Pada saat pemerintahan Pakubuwana VII, Peperangan Diponegoro telah usai. Menyebabkan Keraton Surakarta dalam keadaan damai. Dan pada keadaan damai itu lah tumbuh dan berkembangnya sastra secara besar besaran. Masa pemerintahan Pakubuwana VII ini di sebut dengan masa kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta.

  1. Pakubuwana VIII dan IX

Pakubuwana VIII hanya menjabat selama 3 tahun sampai akhir hayatnya. Selanjutnya Pakubuwana VIII di gantikan putra dari Pakubuwana VI yang bergelar Sri Susuhan Pakubuwana IX.

  1. Pakubuwana X

Pada masa pemerintahan Pakubuwana, suasana politik di Keraton Surakarta sangatlah stabil, dan pada masa ini disebut masa kejayaan pemerintahan Pakubuwana X. Pada masa ini terjadi sebuah transisi, yaitu dari Kerajaan era tradisional menuju ke era modern.

Ia juga banyak membangun infrastruktur untuk Kota Surakarta seperti Stasiun Solo Jebres, Satwa Taru Jurug (Kebun Binatang Jurug),  Jembatan Jurug, bangunan Pasar Gedhe dan masih banyak yang lainnya. Namun pada 1 Februari 1939 Pakubuwana X wafat, ia di juluki oleh rakyatnya sebagai Sunan Panutup atau disebut sebagai raja besar Surakarta yang terakhir.

  1. Pakubuwana XI

Masa pemerintahan Pakubuwana XI merupakan masa yang sulit karena pada saat itu bertepatan dengan perang dunia kedua. Dan pada tahun 1942, terjadi pergantian penjajahan dari Belanda kepada Jepang.

  1. Pakubuwana XII

Masa pemerintahan Pakubuwana XII bersamaan dengan momen lahirnya NKRI. Lalu pada 1945 – 1946 Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegara bahkan menjadi Daerah Istimewa pada saat kemerdekaan.

Leave a Comment